Sejak awal, Pesugihan Sate Gagak memang tidak pernah berniat menjadi
film horor yang “sopan”. Film ini datang dengan satu niat utama: menghibur
lewat humor absurd, vulgar, dan tanpa rem. Vibenya sangat terasa seperti komedi
khas GJLS, hanya saja dibalut dalam versi Jawa yang jauh lebih eksplisit dan
blak-blakan.
Karena itu, penting untuk memberi peringatan sejak awal.
Film ini tidak untuk semua orang. Jika kamu risih dengan humor seksual,
body shaming, atau komedi vulgar khas obrolan tongkrongan, sebaiknya film ini
dilewatkan saja. Tapi kalau kamu tipe penonton yang bisa menerima segala bentuk
komedi tanpa banyak mengernyit, film ini masih sangat layak masuk daftar
tontonan.
Premis: Masalah Serius, Solusi Paling Gila
Secara ide, Pesugihan Sate Gagak punya premis yang
sebenarnya kuat dan dekat dengan realitas. Cerita berpusat pada tiga
sahabat—Anto, Dimas, dan Indra—yang sama-sama terjepit masalah ekonomi.
Ada yang ingin menikah tapi terbentur tuntutan keluarga.
Ada yang ingin membantu orang tua membuka usaha.
Ada pula yang masih terjebak trauma masa lalu dan butuh uang cepat.
Semua masalah itu terasa sangat membumi dan mudah
direlasikan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, alih-alih mencari jalan keluar
secara normal, mereka justru memilih jalan pintas yang paling nekat: melakukan ritual
Pesugihan Sate Gagak. Yang bikin film ini langsung naik level kegilaannya
adalah syarat ritual tersebut—ketiganya harus telanjang bulat sepanjang
prosesnya.
Ini ide yang sangat berani untuk ukuran film bioskop arus
utama Indonesia, apalagi bukan rilisan OTT. Dari sini saja sebenarnya film ini
sudah menjanjikan pengalaman yang tidak biasa.
Naskah Tipis, Ide Besar yang Kurang Tergarap
Sayangnya, ide segila itu tidak ditopang oleh naskah yang
sama kuatnya. Script film ini terasa tipis untuk ukuran konflik yang sebenarnya
kompleks.
Banyak potensi yang seharusnya bisa digali lebih dalam—soal
tekanan ekonomi, keputusasaan hidup, tuntutan adat, hingga soal mahar
pernikahan—namun semuanya hanya disentuh di permukaan. Film tampak kebingungan
menentukan mau serius atau mau sepenuhnya bercanda. Baru saja menyentuh isu
yang cukup emosional, tiba-tiba langsung dipatahkan dengan lelucon vulgar.
Akibatnya, pesan-pesan yang sebenarnya penting jadi tidak
pernah benar-benar sampai dengan utuh. Terlalu banyak isu yang ingin dibahas
dalam durasi yang terbatas, sehingga tidak ada yang benar-benar berkembang
dengan tuntas. Di akhir, film terasa lebih fokus mengejar tawa daripada makna.
Chemistry Tiga Aktor: Nyawa Utama Film
Di luar persoalan naskah, kekuatan terbesar film ini jelas
terletak pada chemistry tiga pemain utamanya: Ardit, Benny, dan Yono.
Mereka adalah jantung yang membuat film ini tetap hidup.
Ardit tampil sebagai sosok yang paling “waras” di tengah
kekacauan.
Yono menjadi sumber kekonyolan dengan reaksi-reaksi tak terduga.
Benny hadir dengan kekuatan fisik, gestur, dan mimik yang sudah otomatis
mengundang tawa bahkan tanpa dialog.
Interaksi ketiganya terasa natural, seperti sahabat
sungguhan. Timing komedinya matang, improvisasi terasa mengalir, dan ritme
adegan mereka enak diikuti. Bahkan pada adegan pertengkaran yang diambil dengan
teknik one-take, ketegangan dan emosinya terasa rapi dan surprisingly intens.
Jujur saja, tanpa mereka bertiga, film ini mungkin tidak akan sehidup ini.
Komedi “Bugil”: Berani, Tapi Melelahkan
Elemen paling kontroversial tentu saja adalah keputusan
menampilkan ketiganya dalam kondisi telanjang hampir sepanjang film.
Di satu sisi, ini langkah yang sangat berani dan sukses
membangun absurditas yang bagi sebagian penonton justru terasa segar dan
mengocok perut. Banyak momen yang memang berhasil memancing tawa lepas karena
situasinya benar-benar tidak lazim.
Namun di sisi lain, lelucon yang terlalu sering berputar di
area selangkangan dan gestur vulgar lama-kelamaan terasa repetitif dan
melelahkan. Humor model begini sifatnya sangat hit or miss—bagi yang selaras,
akan tertawa bebas; bagi yang tidak, justru bisa merasa terganggu dan
kehilangan fokus terhadap ceritanya.
Aspek Teknis dan Unsur Horor
Secara teknis, film ini patut diapresiasi. Permainan kamera
cukup variatif—mulai dari slow motion, zoom in-out, hingga penggunaan POV ala
action cam—membuat visualnya terasa dinamis dan tidak membosankan. Terlihat
jelas bahwa film ini digarap dengan niat yang serius secara teknis.
Untuk urusan horor, penampakan makhluk-makhluk seperti
Genderuwo, Kuntilanak, hingga Pocong tampil cukup efektif dan mampu membangun
atmosfer yang lumayan menyeramkan. Sayangnya, atmosfer seram itu sering
langsung runtuh karena disela oleh jokes bugil yang muncul tiba-tiba.
Perpindahan tone antara horor ke komedi terasa terlalu ekstrem dan kadang tidak
mulus.
***
Pesugihan Sate Gagak adalah film horor komedi yang absurd,
nyeleneh, berani, dan sangat segmented. Ia punya premis yang segar, visual
yang cukup kreatif, penggunaan bahasa Jawa yang natural, serta chemistry aktor
yang solid. Namun di saat yang sama, film ini juga memiliki naskah yang tipis,
penyampaian pesan yang tidak konsisten, dan humor yang sangat bergantung pada
selera masing-masing penonton.
Jika kamu masuk bioskop dengan ekspektasi rendah, hanya
ingin duduk santai, tertawa tanpa perlu berpikir panjang, film ini bisa jadi
hiburan yang cukup menyenangkan. Tapi jika kamu berharap horor yang mencekam
atau cerita yang dalam dan menohok, film ini kemungkinan besar akan terasa
hampa.
Skor akhir: 8/10
Unik, nekat, menghibur bagi yang
cocok—namun sangat bergantung pada selera humormu sendiri.
Komentar
Posting Komentar