Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati: Saat Tempat Paling "Tidak Manusiawi" Justru Memanusiakan Kita

Pernahkah kalian merasa dunia begitu berisik, tapi tak satu pun suara yang berpihak padamu? Pernahkah rasa insecure, depresi, atau kehilangan kepercayaan diri datang menyergap hingga rasanya ingin menyerah saja? Jika jawabannya iya, maka buku ini bukan sekadar bacaan, melainkan pelukan yang mungkin sedang kamu butuhkan.

Buku terbaru karya Brian Krishna yang berjudul "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" ini adalah sebuah mega bestseller yang dengan sangat berani mengangkat isu kesehatan mental (mental health). Melalui novel setebal 210 halaman ini, kita diajak menyelami isi kepala seorang pria bernama Ale.

Perjalanan Terakhir yang Tak Terduga

Ale adalah pria berusia 37 tahun dengan perawakan tinggi besar dan kulit gelap. Sayangnya, fisik Ale menjadi sasaran empuk perundungan sejak kecil. Ia kenyang dengan ejekan "gorila" atau "si hitam". Tak hanya dari lingkungan luar, di rumah pun ia merasa tak dianggap dan tak dihargai oleh keluarganya sendiri.

Hingga pada titik nadir di hari ulang tahunnya yang ke-37, Ale merasa lelah. Ia memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Namun, ia memiliki satu permintaan terakhir: menikmati seporsi mie ayam langganannya.

Siapa sangka, pencarian mie ayam terakhir itu justru membawanya bertemu dengan sosok-sosok seperti Murad, Mami Luis, Juleha, hingga Pak Jipren. Mereka adalah orang-orang yang secara kasat mata memiliki hidup jauh lebih kelam dan menderita daripada Ale. Namun, di tempat-tempat yang menurut Ale paling tidak manusiawi itulah, ia justru merasa kembali "dimanusiakan".

Mengapa Buku Ini Wajib Dibaca?

Novel ini adalah sebuah page turner, sekali buka, sulit untuk berhenti. Hampir di setiap halamannya terselip nilai moral yang hangat (heartwarming). Ada beberapa alasan mengapa novel ini terasa begitu dekat dengan kita:

  • Realitas Masyarakat Bawah: Brian Krishna memotret kehidupan masyarakat menengah ke bawah dengan sangat jujur. Masalah-masalah yang muncul terasa sangat nyata (relate).
  • Tanpa Menggurui: Narasi yang dibangun sangat mengalir dan ringan. Penulis tidak menceramahi, tapi mengajak kita berkaca melalui hasil riset mendalamnya pada para penyintas depresi akut.
  • Laki-laki Tidak Bercerita: Tokoh Ale mendefinisikan banyak laki-laki di luar sana yang diam, memendam semua luka sendiri, hingga tiba-tiba merasa ingin menyerah. Buku ini mengingatkan bahwa "curhat" adalah obat paling sederhana namun paling mujarab.

Pelajaran tentang Lisan dan Rasa Syukur

Membaca buku ini membuat kita tersadar untuk lebih berhati-hati dalam berucap. Hal yang kita anggap sepele seperti candaan fisik atau pertanyaan "kapan nikah" bisa jadi adalah pelatuk yang menghancurkan mental seseorang.

Selain itu, perjalanan Ale mengajarkan kita untuk kembali bersyukur. Ternyata, apa yang kita miliki dan kita keluhkan hari ini, bisa jadi adalah impian besar yang sedang diperjuangkan orang lain mati-matian.

Meski ada sedikit kekurangan teknis seperti satu-dua salah ketik (double typing), hal itu sama sekali tidak mengurangi keindahan maknanya. Jika kamu mencari alasan untuk tetap bertahan dan ingin melihat dunia dari sudut pandang yang lebih terbuka, "Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati" adalah jawabannya.

"Karena terkadang, yang kita butuhkan untuk bertahan hidup hanyalah seseorang yang mau mendengarkan, atau mungkin... seporsi mie ayam yang hangat."


Komentar