Belakangan ini, layar lebar kita lagi sering banget kedatangan film drama keluarga dengan judul yang panjang panjang. Kali ini giliran film garapan sutradara Kuntz Agus, judulnya: "Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?". Sebuah judul yang sebenarnya sangat relatable buat banyak orang, tapi pertanyaannya: apakah filmnya benar-benar memberikan arah yang jelas buat penonton?
Fenomena "Ada tapi Tiada"
Film ini berangkat dari isu yang lagi hangat dibicarakan: Fatherless.
Ceritanya tentang sebuah keluarga yang bapaknya (Yudi, diperankan Dwi Sasono)
itu ada secara fisik di rumah, tapi perannya nol besar. Dia nggak kerja, nggak
kasih nafkah, bahkan nggak bantu urusan rumah tangga. Kerjanya cuma murung dan
diam.
Dampaknya? Ibu (Unique Prissila) jadi sosok yang "sumbu
pendek" alias gampang marah karena ngerasa berjuang sendirian jualan soto
demi nyambung hidup. Anak-anaknya pun kena imbas. Si Dira (Mawar de Jongh) yang
ambisius pengen beasiswa ke London jadi terhambat, dan adiknya, Darin
(Raibong), malah pelampiasan jadi bad boy di Jogja.
Kenapa Film Ini Terasa "Melelahkan"?
Jujur saja, nonton film ini rasanya kayak diajak lari maraton tapi di jalan yang mendung dan becek terus. Nggak ada jeda senyumnya.
Film ini terjebak dalam formula melodrama yang
"maksa" banget buat sedih. Penonton seolah nggak dikasih napas buat
ketawa dikit pun. Padahal, film sesedih apa pun butuh yang namanya comic
relief supaya emosinya bisa naik-turun. Di sini? Dari menit awal sampai
akhir kita cuma disuguhi penderitaan yang bertubi-tubi.
Masalah Logika dan Karakter yang "Bikin
Geregetan"
Satu hal yang paling bikin saya gatal pas nonton adalah soal
logika ceritanya. Ada momen di mana keluarga ini digambarkan menderita banget
sampai listrik mati karena nggak bisa beli token, padahal si kakak punya uang
tabungan yang lumayan. Kesannya, kemiskinan di film ini cuma dijadikan pajangan
(poverty porn) supaya penonton kasihan, tapi alasannya kurang masuk
akal.
Belum lagi soal karakter si Ayah. Sepanjang film dia milih
diam seribu bahasa. Oke, mungkin dia punya rahasia atau trauma (ada soal tokoh
misterius bernama Damar di tengah film), tapi penonton nggak dikasih alasan
yang cukup kuat untuk memaafkan diamnya dia. Masalah yang harusnya selesai
kalau dia ngomong dikit aja, malah dibiarkan membesar kayak bola salju.
Efeknya, character arc-nya nggak berasa. Kita pengen
lihat ada perubahan atau titik balik yang emosional di akhir, tapi sayangnya
semuanya terasa datar sampai film selesai.
Penyelamat: Akting Mawar de Jongh
Kalau ada alasan kenapa film ini masih layak ditonton,
jawabannya adalah akting. Mawar de Jongh gila banget sih di sini. Dia totalitas
banget bawain karakter anak sulung yang tertekan. Begitu juga Unique Prissila yang
sukses bikin kita ikut ngerasa capek jadi ibu yang sendirian ngurus keluarga.
Secara visual pun film ini cantik. Sinematografinya oke,
posternya estetik. Tapi ya itu, visual cantik nggak bisa nutupi skenario yang
kerasa bolong-bolong dan kurang "nyawa".
Skor pribadi: 6/10 (Jempol banget buat akting Mawar dan
visualnya, tapi maaf, skenarionya kureng buat saya).
Gimana menurut kalian? Ada yang sudah nonton atau baca
bukunya? Coba share di kolom komentar ya!

Komentar
Posting Komentar