Lagi-lagi Film Soal Ayah: Review Film "Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?" (2026)


Belakangan ini, layar lebar kita lagi sering banget kedatangan film drama keluarga dengan judul yang panjang panjang. Kali ini giliran film garapan sutradara Kuntz Agus, judulnya: "Ayah, Ini Arahnya ke Mana Ya?". Sebuah judul yang sebenarnya sangat relatable buat banyak orang, tapi pertanyaannya: apakah filmnya benar-benar memberikan arah yang jelas buat penonton?

Fenomena "Ada tapi Tiada"

Film ini berangkat dari isu yang lagi hangat dibicarakan: Fatherless. Ceritanya tentang sebuah keluarga yang bapaknya (Yudi, diperankan Dwi Sasono) itu ada secara fisik di rumah, tapi perannya nol besar. Dia nggak kerja, nggak kasih nafkah, bahkan nggak bantu urusan rumah tangga. Kerjanya cuma murung dan diam.

Dampaknya? Ibu (Unique Prissila) jadi sosok yang "sumbu pendek" alias gampang marah karena ngerasa berjuang sendirian jualan soto demi nyambung hidup. Anak-anaknya pun kena imbas. Si Dira (Mawar de Jongh) yang ambisius pengen beasiswa ke London jadi terhambat, dan adiknya, Darin (Raibong), malah pelampiasan jadi bad boy di Jogja.

Kenapa Film Ini Terasa "Melelahkan"?

Jujur saja, nonton film ini rasanya kayak diajak lari maraton tapi di jalan yang mendung dan becek terus. Nggak ada jeda senyumnya.

Film ini terjebak dalam formula melodrama yang "maksa" banget buat sedih. Penonton seolah nggak dikasih napas buat ketawa dikit pun. Padahal, film sesedih apa pun butuh yang namanya comic relief supaya emosinya bisa naik-turun. Di sini? Dari menit awal sampai akhir kita cuma disuguhi penderitaan yang bertubi-tubi.

Masalah Logika dan Karakter yang "Bikin Geregetan"

Satu hal yang paling bikin saya gatal pas nonton adalah soal logika ceritanya. Ada momen di mana keluarga ini digambarkan menderita banget sampai listrik mati karena nggak bisa beli token, padahal si kakak punya uang tabungan yang lumayan. Kesannya, kemiskinan di film ini cuma dijadikan pajangan (poverty porn) supaya penonton kasihan, tapi alasannya kurang masuk akal.

Belum lagi soal karakter si Ayah. Sepanjang film dia milih diam seribu bahasa. Oke, mungkin dia punya rahasia atau trauma (ada soal tokoh misterius bernama Damar di tengah film), tapi penonton nggak dikasih alasan yang cukup kuat untuk memaafkan diamnya dia. Masalah yang harusnya selesai kalau dia ngomong dikit aja, malah dibiarkan membesar kayak bola salju.

Efeknya, character arc-nya nggak berasa. Kita pengen lihat ada perubahan atau titik balik yang emosional di akhir, tapi sayangnya semuanya terasa datar sampai film selesai.

Penyelamat: Akting Mawar de Jongh

Kalau ada alasan kenapa film ini masih layak ditonton, jawabannya adalah akting. Mawar de Jongh gila banget sih di sini. Dia totalitas banget bawain karakter anak sulung yang tertekan. Begitu juga Unique Prissila yang sukses bikin kita ikut ngerasa capek jadi ibu yang sendirian ngurus keluarga.

Secara visual pun film ini cantik. Sinematografinya oke, posternya estetik. Tapi ya itu, visual cantik nggak bisa nutupi skenario yang kerasa bolong-bolong dan kurang "nyawa".

***
Buat kamu yang suka drama berat yang bikin sesak dada dan nggak masalah dengan alur yang lambat tanpa humor, mungkin film ini cocok. Tapi buat saya, film ini terasa kayak instruksi "Ayo sedih sekarang!" tanpa ngasih alasan yang kuat kenapa saya harus peduli sama masalah karakternya.

Skor pribadi: 6/10 (Jempol banget buat akting Mawar dan visualnya, tapi maaf, skenarionya kureng buat saya).

Gimana menurut kalian? Ada yang sudah nonton atau baca bukunya? Coba share di kolom komentar ya!

 

Komentar