Saya Pikir Bakal Pusing, Ternyata Film Sci-Fi Ini Bikin Nagih Sampai Akhir! | Review Film Project Hail Mary (2026)
Membedah Project Hail Mary: Alasan Kenapa Kamu Berdosa
Kalau Melewatkan Sci-Fi Satu Ini
Lupakan sejenak film-film luar angkasa yang bikin pusing
atau terlalu suram. Tahun ini, kita kedatangan satu permata baru berjudul Project
Hail Mary. Film ini bisa dibilang sebagai surat cinta untuk para pecinta
fiksi ilmiah yang selama ini merindukan rasa "ajaib" di bioskop.
Setelah sekian lama kita digempur film horror lokal dan film drama (tak sedikit
yang gagal menjual kesedihan).
Sinopsis: Balapan Melawan Padamnya Matahari
Bayangkan dunia sedang sekarat karena matahari perlahan
meredup. Bukan karena faktor alami, tapi karena ada mikroorganisme bernama Astrophage
yang "memakan" energi matahari. Kalau matahari padam, tamatlah
riwayat Bumi.
Cerita berfokus pada Ryland Grace (diperankan Ryan Gosling),
seorang ilmuwan yang mendadak terbangun dari koma di sebuah kapal luar angkasa.
Masalahnya? Dia sendirian, teman-temannya tewas, dan dia sama sekali nggak
ingat siapa dirinya atau apa misinya di sana. Lewat kepingan memori yang muncul
perlahan, kita diajak melihat perjuangan Ryland di sistem tata surya lain demi
mencari cara menyelamatkan umat manusia.
Plot: Maju-Mundur yang Bikin Nagih
Alih-alih bercerita secara linear, film ini menggunakan alur
non-linear. Kita dibawa melompat antara masa kini di pesawat luar
angkasa dan masa lalu saat persiapan misi di Bumi. Hebatnya, storytelling-nya
rapi banget. Informasi diberikan sedikit demi sedikit, sehingga kita ikut
merasa tegang saat Ryland mulai menyadari betapa berat beban yang dia pikul.
Yang paling saya suka, film ini berhasil menyederhanakan
hal-hal saintifik yang rumit jadi sesuatu yang mudah dicerna. Kita paham
logikanya tanpa perlu jadi profesor fisika. Ada kejutan besar di tengah film
yang nggak pernah gua duga sebelumnya—sesuatu yang sangat unexpected dan
bikin emosi naik turun.
Performa Akting: "The One-Man Show" Ryan Gosling
Ryan Gosling membuktikan kelasnya di sini. Setelah sukses di
First Man, dia kembali ke luar angkasa dengan karakter yang lebih nerdy
dan manusiawi. Sebagai penonton, kita bisa merasakan rasa takut, bingung,
sampai semangatnya saat menemukan sebuah penemuan baru. Dia sendirian di
sebagian besar durasi film, tapi aktingnya sangat cukup untuk membuat kita
tetap terpaku di kursi.
Jangan lupakan juga Sandra Hüller. Perannya sebagai ketua
peneliti di Bumi memberikan bobot emosional yang kuat, terutama lewat adegan
ikonik saat timnya menyanyikan lagu Harry Styles sebelum peluncuran. Itu adalah
momen perpisahan paling nyesek.
Sinematografi dan Visual yang Bikin Nangis
Kalau ada nama Greig Fraser di bangku Director of
Photography (DOP), kalian tahu visualnya nggak main-main. Setelah memukau
kita di Dune dan The Batman, Fraser membawa estetika yang megah
ke film ini. Visual luar angkasanya nggak cuma hitam pekat dan serem, tapi
penuh warna berkat efek mikroorganisme Astrophage yang bikin langit
berubah jadi bintik-bintik merah. Indah banget!
Ditambah lagi tangan dingin sutradara Phil Lord dan
Christopher Miller yang bisa menangkap skala kemegahan ruang angkasa namun
tetap terasa intim secara emosional.
Skor Musik dan Soundtrack: Jenius!
Scoring film ini punya vibe yang unik—megah seperti
musik di katedral, tapi tetap futuristik. Dan penggunaan lagu "Sign of
the Times" dari Harry Styles adalah masterclass dalam
penempatan soundtrack. Liriknya terasa sangat relevan sebagai ucapan selamat
tinggal pada Bumi yang sedang sekarat.
***
Project Hail Mary buat saya adalah paket lengkap:
menegangkan, mengharukan, tapi tetap punya sisi lucu. Ini adalah jenis sci-fi
yang punya "hati" dan harapan (hopeful).
- Skor
Personal: 9/10
Ini benar-benar calon kuat film terbaik tahun 2026 versi
gua. Jadi, langsung amankan tiket kalian. Jangan sampai film bagus cepat turun layer
dan Jangan sampai kena spoiler!

Komentar
Posting Komentar