Sindiran Keras Buat Hukum Indonesia? Simak Review Jujur Film "Keadilan (The Verdict)" di Sini!


Pernah dengar istilah Art Imitates Life? Kadang, kenyataan di berita TV jauh lebih gila dari skrip film. Tapi lewat Keadilan (The Verdict), sutradara Yusron Fuadi dan koleganya dari Korea, Lee Chang-hee, mencoba memotret keputusasaan itu ke dalam satu ruang sidang yang mencekam.

Sebuah Premis yang "Indonesia Banget"

Bayangkan kamu adalah Raka (Rio Dewanto). Kamu cuma seorang satpam kecil di gedung pengadilan. Hidupmu yang tenang hancur total saat istrimu, Nina (Niken Anjani), tewas karena ulah Dika (Elang El Gibran) si anak konglomerat yang punya hobi meremehkan nyawa orang.

Masalahnya, ini Indonesia (dalam film, tapi ya mirip aslinya). Dika punya "perisai" bernama uang dan pengacara kelas kakap bernama Timo (Reza Rahadian). Hasilnya? Persidangan yang harusnya mencari kebenaran malah jadi panggung sandiwara yang sudah diatur pemenangnya.

Dari sinilah Raka meledak. Dia nggak butuh palu hakim untuk mengetuk keadilan; dia butuh pistol dan sandera. Dia ambil alih ruang sidang, menuntut satu hal yang tabu di sana: Kejujuran.

Kolaborasi Dua Rasa: Intensitas Seoul, Visual Jakarta

Film ini unik karena "dikoyak" oleh dua tangan. Sentuhan Lee Chang-hee (A Killer Paradox) sangat terasa pada pembangunan plot yang fast-paced dan pengenalan karakter yang efisien. Kita nggak dikasih waktu buat napas. 

Tapi hebatnya, Yusron Fuadi (bersama BW Purbanegara) nggak membiarkan film ini jadi "Drakor rasa lokal". Visualnya tetap membumi. Gedung pengadilannya kaku, aula yang pengap, dan polkis-polkisnya pun terasa sangat autentik (mungkin karena diperankan polisi beneran). Ini bukan pengadilan fiksi yang estetik, ini adalah pengadilan yang sering kita lihat di berita daerah.

Reza Rahadian: Pengacara "Dingin" yang Kita Benci Sekaligus Kagumi

Kalau ditanya apa yang paling mahal di film ini, jawabannya adalah adu mulut antara Rio Dewanto dan Reza Rahadian.  Reza tampil dengan persona yang sangat elegan namun mematikan. Ada satu momen ketika kliennya, si Dika yang toxic itu, mengeluh bosan. Timo (Reza) cuma menoleh dingin dan bilang: 

"Bapak lu bayar gua biar lu selamat, bukan biar lu nggak boring." Kalimat itu sederhana, tapi delivery-nya bikin kita sadar kalau karakter ini cuma peduli pada angka, bukan etika. Di sisi lain, Rio Dewanto tampil dengan emosi yang terjaga namun meledak di saat yang tepat.

Antara Drama dan Action: Sebuah Pilihan Sulit

Meski durasi 100 menitnya terasa sangat cepat, saya merasa film ini punya sedikit "lubang" di kedalaman emosinya. Karena alurnya yang sangat fast-paced seperti film action murni, kita kehilangan momen untuk benar-benar menyelami kesedihan Raka secara mendalam. 

Seandainya sutradara memilih untuk menyimpan rahasia tentang bagaimana kematian istrinya hingga akhir (sebagai twist di ruang sidang), tensi antara Timo dan Raka saat beradu argumen pasti bakal jauh lebih "pedas". Kita sebagai penonton akan dibuat bertanya-tanya: "Siapa yang sebenarnya bohong?" Tapi ya, film ini memilih rute action-thriller\ yang lebih komersil, dan itu sah-sah saja.

Kenyang Tapi Kurang "Pedas"

Keadilan (The Verdict) adalah sebuah tontonan yang memuaskan. Ia berhasil menyentil borok hukum kita tanpa harus terasa menggurui. Dialog Raka tentang "Nyari keadilan jangan di gedung pengadilan"* akan terus terngiang-ngiang di kepala kamu setelah keluar bioskop.

Kalau kamu cari hiburan yang bikin deg-degan sekaligus pengin maki-maki kondisi hukum kita, film ini adalah jawabannya. 

Rating Akhir: 8/10

Komentar