Gimana rasanya melampaui sebuah film yang sudah telanjur bikin sejarah jadi film Hindi terlaris sepanjang masa? Jujur, waktu pertama kali dengar kabar kalau sutradara Aditya Dhar mau ngerilis Dhurandhar 2: The Revenge, ada rasa deg-degan sekaligus ragu. Bisa nggak ya film keduanya ini menyaingi kemegahan film pertamanya yang rilis akhir 2025 kemarin? Tapi begitu kemarin saya nonton, semua keraguan itu langsung menguap. Gila, film ini bener-bener pecah banget dan jauh lebih epik!
***
Secara garis besar, film ini melanjutkan kisah Jaskirat Singh Rangi (yang diperankan dengan sangat brilian oleh Ranveer Singh) yang masih terjebak dalam penyamaran super dalamnya sebagai Hamza Ali Mazari di Pakistan. Kali ini ceritanya naik kelas. Bukan cuma soal misi rahasia negara, tapi Hamza harus berhadapan dengan lingkaran setan korupsi militer yang dipimpin Mayor Iqbal (Arjun Rampal) dan ngerinya dunia bawah tanah di sana. Taruhannya? Bukan cuma kedamaian dua negara, tapi juga keselamatan darah dagingnya sendiri!
Dari segi identitas karya, film bergenre spy action-thriller politik garapan Aditya Dhar ini membawa deretan cast monster: Ranveer Singh, Arjun Rampal, Sanjay Dutt, hingga R. Madhavan. Dengan durasi super epik sekitar 3 jam 49 menit, film ini sempat mengguncang jagat perfilm india Maret 2026 kemarin, dan sekarang euforianya makin meledak karena versi Raw & Uncut-nya baru aja mendarat di platform streaming seperti Netflix!
***
Secara analisis kritis, yang bikin saya angkat topi tinggi-tinggi adalah keberanian naskahnya. Film ini sama sekali nggak terjebak dalam bumbu nasionalisme buta yang murahan. Aditya Dhar berani banget mengeksplorasi area abu-abu dunia intelijen, di mana batas antara kawan dan lawan itu tipis banget. Paruh pertama film memang sengaja dibuat bergerak lambat demi membangun tensi politik yang padat, tapi strategi ini sukses besar karena begitu masuk paruh kedua, emosi kita bener-bener diaduk-aduk sampai habis!
Secara sinematografi? Asli, ini visualnya mewah banget! Sinematografernya sengaja ninggalin kesan glossy glamor khas Bollywood dan ganti dengan visual yang gritty, mentah, dan dingin yang bikin atmosfernya kerasa mencekam banget. Apalagi pas adegan long-take gang war di paruh akhir, pergerakan kameranya jenius banget, dinamis, dan bikin kita berasa lagi ikutan tiarap di tengah desingan peluru secara real-time! Jantung rasanya mau copot!
Nggak kalah juara, sektor aktor dan performa di film ini bener-bener megang kendali. Ranveer Singh ngasih akting terbaik sepanjang kariernya! Dia sukses besar nampilin dualitas karakter: di satu sisi dia monster taktis yang dingin dan mematikan, tapi di sisi lain dia seorang ayah yang rapuh dan ketakutan. Lawan mainnya, Arjun Rampal, tampil sebagai villain yang karismatik sekaligus bikin gemas. Dia nggak perlu teriak-teriak buat kelihatan kejam, cukup lewat tatapan matanya yang sedingin es. Ditambah karisma Sanjay Dutt dan R. Madhavan, tiap kali mereka konfrontasi dialog, tensinya langsung meroket!
***
Tentu kalau bicara kelebihan dan kekurangan, film ini punya catatan tersendiri. Kelebihan utamanya jelas ada pada naskah spionase yang cerdas, koreografi aksi yang taktis dan brutal, serta kualitas scoring musik kelas dunia. Tapi di sisi lain, durasinya yang hampir 4 jam jelas bakal terasa melelahkan buat penonton kasual, ditambah pacing di awal yang agak lambat karena terlalu fokus ngejelasin konspirasi politiknya.
Tapi Dhurandhar 2: The Revenge adalah sebuah monumen baru buat sinema aksi modern. Film ini ngebuktiin kalau film blockbuster bermodal besar tetap bisa punya kedalaman cerita yang luar biasa.
Di bioskop film ini emang terasa ada yang kurang karena banyak adegan kekerasa dan lainnya di-cut karena memang sebrutal itu, tapi sekarang kalian bisa nonton ulang Versi Raw and Uncut yang ada di aplikasi streaming sekarang. Potongan-potongan adegan brutal yang sempat kena sensor bioskop kemarin justru jadi perekat emosional yang bikin akhir film ini kerasa jauh lebih magis, tragis, dan memuaskan.
***
Namun, di balik kemegahan aksinya, Dhurandhar 2 tidak luput dari catatan kritis. Film ini sempat memicu kontroversi di media sosial terkait isu stereotip politik dan narasi yang dinilai sensitif bagi sebagian kalangan. Bagi penonton yang sangat memperhatikan isu representasi, formula penggambaran konflik dua negara di film ini mungkin akan terasa masih terjebak pada pola-pola lama. Meskipun demikian, jika kita melihatnya murni sebagai sebuah produk hiburan spionase fiksi, Aditya Dhar tetap berhasil menyajikan sebuah drama tensi tinggi yang memikat
Jangan sampai kelewat, langsung gas tonton!
Komentar
Posting Komentar