REVIEW THE DEVIL WEARS PRADA 2 (2026) : Sebuah Sekuel yang Menua dengan Indah Setelah Dua Dekade


Setelah 20 tahun menjadi penantian panjang para penggemar fashion dan drama komedi, sekuel dari film ikonik The Devil Wears Prada akhirnya hadir di tahun 2026. Kembali disutradarai oleh David Frankel dengan naskah dari Aline Brosh McKenna, film ini berhasil membawa kita bernostalgia sekaligus melihat realitas industri media yang sudah berubah total.

1. SINOPSIS & LATAR BELAKANG
Cerita mengambil latar 20 tahun setelah Andy Sachs (Anne Hathaway) memutuskan keluar dari majalah Runway. Kini, Andy telah bertransformasi menjadi jurnalis sukses penuh penghargaan. Namun, kejayaan itu terbentur realitas pahit industri media konvensional yang sedang goyah; kantor surat kabarnya melakukan layoff besar-besaran.

Di sisi lain, majalah Runway yang dulu dianggap sebagai "Kitab Suci" fashion kini sedang berjuang keras karena kesulitan mendapatkan pengiklan di era digital. Dalam situasi kritis ini, CEO Runway memanggil kembali Andy untuk menjabat sebagai Editor Feature. Mau tidak mau, Andy harus kembali bekerja sama dengan mantan bosnya yang legendaris sekaligus mengerikan, Miranda Priestly, demi menyelamatkan eksistensi Runway.

2. ALUR CERITA & PENGEMBANGAN KARAKTER
Film ini menyoroti pergeseran industri dari cetak ke digital. Menariknya, kita diperlihatkan bagaimana karakter-karakter ikonik ini beradaptasi dengan zaman:

  • Miranda Priestly (Meryl Streep): Masih tetap intimidatif dan charming (adegan turun dari mobil dengan gaun merah adalah scene-stealer!). Namun, kekuasaannya tidak lagi absolut. Ia mulai bisa menerima kritik, bahkan dari asisten pribadinya. Kata ikonik "That’s all" pun kini menghilang, menandakan perubahan otoritasnya di mata dunia.
  • Andy Sachs (Anne Hathaway): Lebih matang dan tidak naif. Ia tetap ambisius, namun kini ia bekerja bukan karena takut, melainkan karena profesionalitas untuk menyelesaikan masalah.
  • Emily (Emily Blunt): Bukan lagi asisten yang hanya cari muka. Emily kini lebih memegang kendali dan memiliki agendanya sendiri dalam "permainan" kekuasaan di kantor.
  • Nigel (Stanley Tucci): Tetap menjadi jantung dari film ini. Meskipun pernah dikhianati di film pertama, Nigel tetap setia di orbit Miranda. Ia adalah representasi loyalitas sejati di tengah industri yang dingin.

3. POIN MENARIK & PRODUKSI
  • Skala Produksi yang Lebih Megah: Produksi film ini terasa jauh lebih "wah" dibandingkan film pertama. Dengan lokasi syuting hingga ke Italia dan adegan runway yang lebih spektakuler, mata penonton benar-benar dimanjakan.
  • Cameo Kelas Atas: Kehadiran Lady Gaga memberikan warna baru, terutama percakapannya dengan Miranda yang menunjukkan bahwa peta kekuatan fashion telah berubah. Selain itu, ada kemunculan tokoh nyata seperti Donatella Versace.
  • Relevansi Zaman: Isu layoff, pergeseran ke media digital, hingga fenomena "takut diviralkan" (yang membuat Miranda lebih menahan diri) membuat film ini terasa sangat relate dengan kondisi saat ini.

4. ANALISIS & KRITIK
Meskipun tampil memukau, film ini bukan tanpa celah:

  • Pace yang Cepat: Terutama di third act (babak ketiga), plot mengenai intrik kekuasaan perusahaan terasa bergerak sangat cepat (tang-ting-tung).
  • Subplot Romansa: Andy kini memiliki love interest seorang agen properti biasa. Subplot ini terasa kurang memiliki kedalaman emosional dan sebenarnya bisa dihilangkan tanpa mengganggu alur utama, meskipun ini menunjukkan bahwa Andy kini hanya mencari kenyamanan, bukan validasi.
  • Ending yang "Safe": Berbeda dengan film pertama yang cukup berani, ending sekuel ini terasa lebih "main aman" untuk menyenangkan semua orang. Namun, ini bisa dimaklumi sebagai bentuk penghormatan (tribute) terhadap legacy film pertamanya.

***
The Devil Wears Prada 2 adalah sekuel yang sangat worth the wait. Keempat aktor utamanya membuktikan bahwa mereka aging like fine wine, tetap karismatik dan memukau.

Skor: 8.5/10
Sangat disarankan untuk menonton (atau rewatch) film pertamanya terlebih dahulu agar bisa merasakan kedalaman perkembangan karakter dan nostalgia yang ditawarkan.
Jika film pertama adalah tentang "cinta pertama" yang ikonik, maka film kedua adalah tentang kedewasaan dan cara bertahan di dunia yang terus berubah. Tetap megah, tetap tajam, dan tetap modis.


Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian tim film pertama yang ikonik atau film kedua yang lebih megah ini?

Komentar