Review Dilan ITB 1997 : Banyak yang Bilang Ketuaan, Tapi Akting Aril Noah Malah Bikin Merinding!


Kalau ada yang bilang karakter Dilan itu cuma soal gombalan di atas motor CB, mereka harus nonton Dilan ITB 1997. Film garapan Fajar Bustomi ini bukan cuma soal cinta-cintaan monyet lagi. Ini adalah titik di mana Dilan "naik kelas" menjadi sosok yang lebih matang, dewasa, dan percaya atau tidak ini jauh lebih berbobot.

Cerita dimulai saat Dilan pulang dari Kuba. Dia bukan lagi anak SMA yang hobi tawuran, melainkan mahasiswa FSRD ITB. Di sini, kita dibawa masuk ke atmosfer Bandung tahun '97 yang mulai "gerah". Bukan cuma gerah karena cinta, tapi gerah karena situasi politik menuju reformasi.

Dilan di sini digambarkan punya pacar baru, Anchika. Tapi hidup nggak semudah itu, kan? Di sela-sela urusan kampus dan demo mahasiswa, bayang-bayang masa lalu bernama Milea tiba-tiba muncul lagi lewat sebuah telepon. Di sinilah kedewasaan Dilan diuji: bagaimana dia menutup buku masa lalu, bahkan sampai rela menjual motor ikoniknya, demi benar-benar melangkah maju.

Ariel Noah: Dilan yang "Pas Pisan"

Awalnya banyak yang skeptis, "Aril nggak ketuaan apa jadi Dilan?". Tapi jujur, begitu layar terbuka dan adegan kereta dimulai, semua keraguan itu luntur. Aura Ariel itu "Dilan banget", nakalnya dapet, kharismanya tumpah-tumpah, dan dialek Sunda-nya itu kerasa natural, nggak dibuat-buat.

Niken Anjani yang jadi Anchika juga nggak kalah juara. Visualnya manis, pas banget disandingkan sama Aril. Chemistry mereka berdua bikin kita yang nonton ngerasa kalau film ini memang punya production value yang mahal. Belum lagi jajaran supporting cast seperti Ira Wibowo (Bunda yang tak tergantikan), Raline Shah, sampai kameo-kameo asyik kayak anak-anak Koil dan Yoga PHB yang bikin kita senyum-senyum sendiri.

Nonton film ini tuh kayak dapet relaksasi setelah seharian kerja. Alurnya rapi, nggak ada yang ujug-ujug. Penempatan konflik politiknya pun pas, nggak maksa. Ada satu scene epik waktu lagu "Percuma" mengiringi demo mahasiswa, itu merinding sih! Berasa banget bobot ceritanya.

Meski begitu, namanya juga film, pasti ada "bumbu" yang kurang. Kadang ada beberapa sudut pengambilan gambar yang bikin perbedaan tinggi badan Ariel dan Niken kelihatan jomplang banget. Terus, motif Milea yang tiba-tiba muncul lagi juga terasa kurang "didalem-dalemin" alasannya. Tapi ya sudahlah, itu tertutup sama vibes Bandung '97 yang digambarkan sangat believable.

Penutup Saga yang Manis

Ada satu momen favorit yang membekas: waktu Dilan harus melepas masa lalunya lewat flashback singkat tanpa memperlihatkan wajah secara utuh. Itu set emosinya dapet banget.

Buat kalian yang kangen sama suasana Bandung tempo dulu, film ini juara secara visual. Kritik sosialnya ada, bumbu politiknya kerasa, tapi tetap dibungkus dengan cara yang santai dan nggak bikin tegang.

Rating 7,5 /10. 

Sangat layak tonton buat para Gen X yang mau nostalgia, atau siapa pun yang mau lihat gimana cara seorang Dilan si mantan panglima tempur menyelesaikan "perang" di dalam hatinya sendiri.

Komentar