Review Film: Para Perasuk (2026) — Ketika Tradisi, Ambisi, dan Absurditas Bertabrakan


Di tengah lanskap perfilman Indonesia yang terus berkembang, Para Perasuk hadir sebagai sebuah anomali—aneh, berani, tapi justru di situlah kekuatannya. Film ini bukan sekadar tontonan, melainkan pengalaman emosional yang mengguncang. Dengan skor pribadi 9,3/10, film ini layak disebut sebagai salah satu karya terbaik yang pernah hadir di layar lebar Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Ekspektasi yang Dipatahkan Sejak Awal

Masuk ke film ini dengan bayangan horor adalah kesalahan pertama dan justru itu yang membuat pengalaman menontonnya jadi istimewa. Para Perasuk memang memakai elemen “kerasukan”, tapi bukan untuk menakut-nakuti. Sebaliknya, ia mengangkatnya sebagai bagian dari tradisi yang justru terasa… membebaskan.

Berlatar di Desa Latas, film ini memperkenalkan “pesta sambetan” sebuah ritual di mana warga dengan sengaja “dirasuki” untuk merasakan sensasi tertentu. Alih-alih penderitaan, kerasukan di sini menjadi medium pelepasan: rasa sakit berubah jadi kenikmatan, realitas bergeser menjadi pengalaman yang nyaris surealis.

Konsep ini terdengar absurd, dan memang demikian. Tapi justru dari absurditas itulah film ini menemukan identitasnya.

Cerita Personal di Balik Dunia yang Aneh

Di balik dunia yang tidak biasa ini, Para Perasuk tetap berpijak pada konflik yang sangat manusiawi. Tokoh utamanya, Bayu (Angga Yunanda), adalah seorang pemuda dengan ambisi besar: menjadi perasuk utama dalam ritual besar desa.

Namun, ambisi itu tidak berdiri di ruang kosong. Ia dibebani masalah keluarga, tekanan hidup, dan ketakutan akan masa depan. Di titik ini, film mulai menunjukkan wajah aslinya, bukan hanya tentang ritual, tapi jauh lebih dalam, film ini bercerita tentang pergulatan batin.

Ambisi perlahan berubah menjadi obsesi. Dan seperti obsesi pada umumnya, ia mulai merusak bukan hanya diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekitarnya.

Penyutradaraan yang “Melanggar Aturan”

Sutradara Wregas Bhanuteja sekali lagi membuktikan keberaniannya dalam bereksperimen. Setelah Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti, ia kembali bermain dengan bahasa visual yang tidak konvensional.

Salah satu teknik paling mencolok adalah bagaimana karakter sering kali menatap langsung ke kamera. Dalam kaidah klasik film, ini adalah pelanggaran, menghancurkan ilusi dunia cerita. Tapi di tangan Wregas, justru ini menjadi alat konfrontasi. Penonton tidak lagi sekadar mengamati. Mereka “ditarik masuk”, dipaksa menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan karakter. Ada momen di mana dialog terasa seperti bukan lagi ditujukan pada tokoh di layar, melainkan langsung ke hati penonton.

Efeknya? Tidak nyaman. Tapi sangat efektif.

Absurditas sebagai Senjata Emosional

Film ini penuh dengan momen-momen surealis yang sulit dijelaskan secara logika. Tapi justru karena tidak familiar, otak penonton tidak punya “template” untuk merespons. Hasilnya adalah reaksi yang lebih mentah, lebih jujur.

Alih-alih mengikuti pola drama konvensional yang mudah ditebak, Para Perasuk memilih jalur yang lebih liar. Ia membuat penonton tertawa, lalu perlahan menyeret mereka ke ruang yang lebih gelap—tanpa peringatan.

Perubahan tone dari ringan ke disturbing terasa halus tapi menghantam. Dan di situlah film ini benar-benar bekerja memporak porandakan emosi dengan seniii.

Visual, Simbol, dan Metafora yang Mengganggu

Simbolisme dalam film ini tidak disajikan secara gamblang. Ia tidak memberi jawaban, melainkan memancing pertanyaan. Berbeda dengan pendekatan yang lebih eksplisit seperti dalam karya Joko Anwar, film ini memilih jalur ambigu, membuka ruang tafsir seluas mungkin.

Contoh paling kuat adalah penggunaan simbol “lintah” sebagai representasi obsesi. Tidak dijelaskan secara langsung, tapi terasa. Penonton dipaksa menyusun makna sendiri, dan justru di situlah efeknya menjadi lebih dalam.

Catatan Kritis: Ending yang Terlalu “Rapi”

Meski nyaris brilian, film ini bukan tanpa cela. Bagian akhir terasa sedikit bertolak belakang dengan keseluruhan pendekatan film.

Alih-alih membiarkan emosi tetap menggantung seperti yang dilakukan di karya-karya sebelumnya, film ini memilih memberikan katarsis yang lebih jelas. Bagi sebagian penonton, ini mungkin memuaskan. Tapi di sisi lain, justru mengurangi kompleksitas dan kekuatan tafsir yang sebelumnya dibangun.

Ending-nya terasa lebih “aman”, dan itu sedikit mengurangi daya pukul film secara keseluruhan.

***

Jadi buat saya, Para Perasuk adalah film yang berani mengambil risiko, dan sebagian besar berhasil. Ia tidak mencoba menyenangkan semua orang, dan memang tidak perlu. Ini adalah film tentang ambisi, luka batin, dan pencarian makna hidup, yang dibungkus dalam dunia yang aneh tapi terasa dekat. Film yang tidak memberi jawaban, tapi justru memaksa kita bertanya.

Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.

Nilai: 9,3/10
Sebuah karya yang tidak sempurna, tapi sangat penting.




Komentar