Bukan Pop Biasa, Ini Audio-Terapi: Seni Menerima Diri dalam Single Terbaru Tulus

Tahu kan momen ketika seharian kita dikejar deadline, kepala penuh dengan urusan kerjaan, lalu pas sampai rumah, kita cuma duduk di pinggir kasur, diam, dan menatap dinding kosong?

Nah, lagu "Teh Hijau" nya Tulus punya getaran (vibe) yang persis seperti momen itu.
Musik di lagu ini tidak mencoba untuk tampil megah. Nggak ada raungan orkestra yang bikin dada sesak. Tulus cuma pakai ketukan bass yang santai, piano elektrik yang hangat, dan petikan gitar akustik yang minimalis. Musiknya mengalir pelan banget, mirip seperti air hangat yang dituangkan ke dalam cangkir.

Suara Tulus di sini juga beda. Dia nggak sedang bernyanyi untuk konser besar. Dia seperti sedang duduk di sebelah kita, berbicara dengan suara rendah yang menenangkan, menceritakan rahasia yang selama ini dia simpan sendiri.

Jujur Soal "Mati Rasa"
Di era sekarang, kita sering dipaksa untuk selalu terlihat oke, selalu produktif, dan selalu bahagia. Kalau sedih, harus cepat-cepat bangkit. Tapi Tulus lewat lagu ini justru bilang: "nggak apa-apa kok kalau kamu lagi ngerasa hampa."
Coba lihat liriknya yang ini:
> "Sedang tak mudah bertemu rasa senang... mungkin aku sedang tak bisa jatuh cinta, membuka hati untuk apapun siapapun."
Kata "jatuh cinta" di sini rasanya dalam banget. Ini bukan cuma soal putus cinta sama pacar. Ini tentang momen ketika kita kehilangan percikan semangat dalam hidup. Mau ngerjain hobi yang biasanya kita suka, rasanya hambar. Mau kumpul sama teman-teman, rasanya malas. Jiwa kita lagi gersang, capek mental, atau istilah keren anak sekarang: burnout.
Tulus dengan sangat jujur mengakui fase itu. Dia tidak berusaha menutupi atau berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Seni Merayakan Kehampaan
Bagian paling mahal dari lagu ini adalah cara Tulus berdamai dengan keadaan. Waktu dia bilang,  "Tapi kini kurayakan hampa ini...", itu rasanya mak jleb di hati.
Daripada kita stres memaksa diri untuk cepat-cepat ceria (yang ujung-ujungnya malah jadi toxic positivity), lagu ini menyarankan kita untuk menerima dulu rasa kosong itu. Nikmati saja prosesnya.

Metafora Teh Hijau di sini pas banget. Menikmati teh hijau itu kan nggak bisa buru-buru ya. Harus ditunggu sampai airnya agak hangat, dihirup aromanya, baru diseruput pelan-pelan. Tulus seolah-olah sedang menyodorkan secangkir teh itu ke kita sambil ngomong pelan-pelan :
> "Dunia di luar sana emang berisik dan nggak bisa kita atur. Tapi saat ini, yang ada di kendali kita cuma cangkir ini. Jadi, ambil waktu sebanyak yang kamu butuh buat istirahat. Nanti kalau sudah siap, kita jalan lagi. Esok hari pasti bakal lebih elok."

Singkatnya, lagu ini adalah pelukan hangat yang relate dan diperlukan banyak orang saat ini. Lagu yang cocok banget didengarkan waktu kita lagi ingin digital detox, menjauh sebentar dari media sosial, dan pengin ngobrol jujur sama diri sendiri.

Gimana, bagian lirik atau instrumen mana yang paling kena di hati kalian pas pertama kali dengar lagu ini?

Komentar