Review Buku Ronggeng Dukuh Paruk : Mengintip Luka Dukuh Paruk Lewat Mata Srintil


Ada sesuatu yang magis sekaligus pilu setiap kali kita membayangkan Dukuh Paruk. Di dusun yang terpencil dan tertutup kabut kemiskinan itu, hidup bernapas lewat suara calung dan gemerincing selendang jingga. Di sanalah Srintil, seorang bocah sebelas tahun, diangkat menjadi ronggeng. Bagi Dukuh Paruk, ronggeng bukan sekadar penari; ia adalah jiwa desa, pemompa semangat yang membuat tanah tandus itu terasa hidup. Srintil menari bukan demi ambisi, melainkan karena takdir dan kepolosan menuntutnya demikian. Di tengah semua itu, ia merajut cinta yang tulus pada Rasus, pemuda desa yang memilih jalan hidup berbeda.

Namun, Ahmad Tohari tidak sedang menulis dongeng manis tentang pedesaan.

Novel yang kemudian diabadikan lewat film Sang Penari (2011) ini perlahan menyeret kita ke dalam pusaran sejarah paling kelam negeri ini: tahun 1965. Ketika badai politik nasional menerjang, desa yang bahkan tidak tahu peta kekuasaan itu mendadak terseret arus. Dukuh Paruk dihancurkan, dan Srintil, sang penari yang sepanjang hidupnya hanya tahu cara menghibur dan menjalankan tradisi tiba-tiba dicap sebagai pengkhianat negara.

Di sinilah Tohari menampar pembaca dengan telak. Betapa di tangan sistem yang kejam dan salah urus, kepolosan manusia bisa mendadak berubah menjadi dosa paling besar. Srintil diseret, disiksa secara batin, dan dilucuti martabatnya tanpa pernah mengerti apa salahnya terhadap negara.

Membaca Ronggeng Dukuh Paruk rasanya seperti duduk di tanah becek Dukuh Paruk sambil mencium aroma dupa, ikut merasakan getar ketulusan Srintil sekaligus sesak melihat bagaimana sejarah menghancurkan orang-orang kecil yang tak berdaya. Diksi yang dipakai Tohari sangat membumi, puitis tanpa terkesan berlebihan, tapi justru menusuk tepat di ulu hati.

Sebuah karya sastra lokal yang karakternya akan terus menghantui kepala lama setelah bukunya ditutup. Kalau kamu butuh bacaan yang menguras emosi sekaligus merontokkan nalar tentang arti kemanusiaan, kisah Srintil dan Dukuh Paruk ini sungguh terlalu berharga untuk dilewatkan.

Komentar