Review Gandhari (2026) : Saat Cinta dan Kepedihan Mengubah Seorang Ibu Menjadi Badai


Bayangkan mimpi buruk setiap orang tua: buah hati tercinta raib dalam sekejap mata di tengah keramaian stasiun kereta. 

Itulah premis mencekam yang langsung membuka Gandhari, film thriller aksi Netflix garapan sutradara Devashish Makhija dan penulis Kanika Dhillon. Ceritanya berpusat pada Bani, diperankan secara totalitas oleh Taapsee Pannu, seorang ibu yang harus berpacu dengan waktu dan keterbatasan fisik yang ekstrem untuk melacak putrinya yang diculik. 

Pencarian tersebut membawanya masuk ke dalam labirin gelap bernama Joypurra, sebuah kota fiktif yang menyimpan sindikat perdagangan anak paling berbahaya di balik topeng kemunafikan warganya.

Menonton film ini ibarat masuk ke dalam labirin yang pengap, tempat di mana rasa takut terbesar diuji sampai ke titik nadir. Film ini gak cuma menyajikan kisah balas dendam biasa, tapi juga meraciknya dengan bumbu mitologi, luka psikologis, serta kritik sosial yang cukup telak.

Hal yang paling juara dari film ini tentu saja lapisan plot twist-nya. Meskipun buat penonton yang hobi menebak-nebak akhir cerita, arah pergerakannya mungkin mulai terbaca sejak paruh kedua, proses pembongkaran rahasia di balik kota fiktif Joypurra tetap terasa memuaskan. Kota itu digambarkan sebagai sarang sindikat yang mengerikan, bersembunyi di balik seniman jalanan, pekerja sosial, sampai aparat penegak hukum yang semestinya melindungi.

Pesan moral yang dibawa juga menancap dalam. Gandhari mengingatkan kita betapa sistem sosial dan birokrasi kerap kali tumpul dan tutup mata pada penderitaan orang-orang kecil. Tapi di atas segalanya, film ini adalah perayaan murni tentang maternal rage, kekuatan dahsyat dari amarah seorang ibu. Cinta dan rasa kehilangan yang teramat sangat ternyata bisa meruntuhkan rasa takut, menembus batas fisik, dan mengubah seseorang menjadi hukum rimba yang tak terhentikan demi darah dagingnya.

Dari segi akting, jajaran pemainnya benar-benar tampil habis-habisan. Taapsee Pannu kembali membuktikan kelasnya sebagai aktris yang tangguh. Menghidupkan karakter Bani yang harus berjuang dalam kondisi kebutaan sementara akibat benturan fisik, Taapsee berhasil memancarkan keputusasaan yang rapuh sekaligus beringas secara bersamaan. Gerak-gerik matanya terasa meyakinkan. Belum lagi dukungan dari Ishwak Singh sebagai suami yang remuk redam, serta aktris watak sekelas Mita Vashisht dan Chhaya Kadam yang sukses bikin penonton curiga pada setiap orang yang muncul di layar.

Meski begitu, film ini bukan tanpa cela. Ada kalanya naskahnya terlalu memaksakan dramatisasi sampai mengorbankan logika naratif. Beberapa petunjuk penting datang begitu saja secara kebetulan tanpa proses investigasi yang organik, bikin tensi thriller-nya terasa agak cheesy di beberapa titik. Benturan gaya antara visi sutradara yang condong ke realisme sosial yang kelam dan gaya komersial sang penulis naskah juga kadang bikin transisi adegannya terasa kurang mulus. Selain itu, potensi karakter-karakter penjahat di sekelilingnya jadi sedikit mubazir karena porsi cerita terlalu tersedot habis oleh perjalanan sang tokoh utama.

Tapi lepas dari segala kekurangannya, Gandhari tetap tontonan yang sangat layak disimak, terutama buat kamu yang doyan cerita balas dendam dengan emosi yang mentah dan tensi yang bikin betah duduk sampai akhir.

Komentar