Review Film Lupa Daratan (2025) : Kutukan yang Merusak Karier, dengan Moral yang Ngena


Bagaimana rasanya ketika karier yang dibangun sejak kecil runtuh bukan karena kurang bakat, tapi karena sikap dan ego sendiri?

Itulah benang merah yang ditawarkan Lupa Daratan—atau Lost in the Spotlight—sebuah drama komedi produksi Netflix yang disutradarai Ernest Prakasa. Film ini mengangkat kisah Vino Agustian, seorang aktor yang sejak kecil mencintai dunia akting, tumbuh menjadi bintang besar, namun perlahan kehilangan arah ketika popularitas mulai mengubah kepribadiannya.

Ketika Akting Tak Lagi Datang dari Hati

Vino Agustian (diperankan oleh Vino G. Bastian) digambarkan sebagai aktor serba bisa, laris, dan di puncak karier. Namun kesuksesan itu berjalan seiring dengan sikap sombong, relasi keluarga yang retak—terutama dengan abang kandungnya—dan kepekaan yang semakin tumpul terhadap sekitar.

Masalah besar datang saat ia mendapat peran prestisius: memerankan seorang mantan presiden. Alih-alih tampil matang, Vino justru mendadak blank. Aktingnya terasa aneh, berlebihan, bahkan menjadi bahan gunjingan. Citra profesionalnya perlahan rusak.

Bersama sahabatnya, ia mencoba mencari jalan keluar—bukan hanya untuk menyelamatkan karier, tapi juga menemukan kembali makna menjadi aktor, dan menjadi manusia.

Drama-Komedi Ringan dengan Sisipan Moral

Sebagai film drama komedi, Lupa Daratan tidak menawarkan tawa yang meledak-ledak. Humor hadir dalam bentuk ringan dan situasional, banyak dibantu oleh karakter pendukung yang cukup efektif mencairkan suasana.

Beberapa adegan kocak terasa natural—seperti momen dobrak pintu yang absurd tapi pas, hingga perjalanan ke kampung untuk mencari anak sakit yang justru melahirkan karakter Musdalifah yang mencuri perhatian. Lucu, sederhana, dan tidak memaksakan diri.

Namun memang harus diakui, sepanjang film, kesan “wah” belum terlalu terasa. Proses kehancuran karier Vino akibat akting yang mendadak lebay sebenarnya menarik, tapi dieksekusi dengan tempo yang cukup datar.


Vino Lagi, Vino Lagi… Tapi Masih Layak Ditonton πŸ˜†

Ya, Vino G. Bastian lagi. Dan lagi. Dan lagi. Tapi jujur saja, aktor yang satu ini memang punya kemampuan adaptasi karakter yang solid. Mau peran serius, komedi, atau campuran keduanya—ia tetap bisa masuk. Di film ini, Vino tampil cukup meyakinkan sebagai aktor yang kehilangan pijakan, meski bukan performa paling “meledak” dalam kariernya.

Justru kejutan datang dari Agus Kuncoro.

Agus Kuncoro, Diam-Diam Menghantam Emosi

Tanpa banyak gimmick, Agus Kuncoro tampil sebagai penyeimbang emosional film ini. Karakternya tenang, dewasa, dan terasa paling “jujur”. Terutama di bagian akhir film—adegan haru yang dibawakannya benar-benar kena.

Di titik inilah film seperti menemukan rohnya.

Ending Lupa Daratan berhasil menebus perjalanan yang sebelumnya terasa biasa saja. Pesan moral tentang kerendahan hati, keikhlasan, dan makna kesuksesan akhirnya sampai dengan bersih. Saya pribadi—dan mungkin banyak penonton lain—tidak kuasa menahan air mata di momen tersebut.

Kesimpulan

Lupa Daratan / Lost in the Spotlight bukan film yang spektakuler dari awal hingga akhir. Namun ia menawarkan pengalaman menonton yang cukup menghibur, dengan klimaks emosional yang tulus dan menyentuh.

Ini film tentang ego, kehilangan arah, dan proses belajar kembali menjadi manusia—bukan sekadar bintang.

Rating Imajie Review: 3,5 / 5
Layak ditonton untuk penikmat drama ringan dengan pesan moral yang membekas di akhir.

Komentar