Bukan Semeru Lagi, Ini Destinasi Rahasia di Sumbawa yang Jadi Latar Utama Novel 5 cm : Aku, Kamu, Samudera dan Bintang-bintang!


Review Buku: 5 cm (Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang) – Menemukan Makna di Balik Realita

Bagi sebagian besar dari kita, judul "5 cm" pasti langsung membawa ingatan pada tahun 2012. Saat itu, demam mendaki Gunung Semeru melanda Indonesia berkat adaptasi film dari novel karya Donny Dhirgantoro. Namun, tahukah kamu bahwa di tahun 2020, Donny merilis sekuel yang jauh lebih tebal dan emosional? Buku itu berjudul "5 cm: Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang".

Dengan ketebalan mencapai 498 halaman, buku ini hadir dengan visual cover yang jauh lebih menarik dan representatif. Jika dulu kita diajak mendaki puncak Mahameru, kali ini kita diajak melakukan road trip panjang yang melintasi Jawa, Bali, hingga akhirnya berlabuh di salah satu permata tersembunyi Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat: Pulau Kenawa.

Kenawa: "Puncak Mahameru" di Tanah Sumbawa

Dalam novel ini, Pulau Kenawa bukan sekadar latar tempat, melainkan tujuan spiritual bagi para tokohnya. Terletak di Kabupaten Sumbawa Barat, pulau tak berpenghuni ini digambarkan dengan sangat puitis oleh Donny Dhirgantoro.

Jika di buku pertama mereka bergelut dengan dinginnya kabut Semeru, di Kenawa mereka dihadapkan pada kontras alam yang luar biasa:

  • Padang Savana yang Luas: Kenawa dikenal dengan bukit kecil di tengah pulau yang dikelilingi padang rumput (savana) yang menguning saat kemarau dan menghijau saat penghujan. Di sini, para tokoh kembali diuji dengan kebersamaan di bawah terik matahari dan hembusan angin laut.
  • Gradasi Air Laut yang Jernih: Donny Dhirgantoro berhasil memindahkan keindahan visual air laut Sumbawa yang biru toska ke dalam kata-kata, membuat kamu seolah bisa merasakan sensasi snorkeling bersama Genta dan kawan-kawan.
  • Refleksi di Bawah Bintang: Sebagaimana judulnya, Pulau Kenawa menjadi tempat di mana "samudra dan bintang-bintang" bertemu. Tanpa polusi cahaya, Kenawa adalah tempat terbaik bagi Zafran dan yang lainnya untuk menatap langit malam sambil merenungi arah hidup mereka.

Konflik "Virus Merah Jambu" yang Belum Usai

Buku kedua ini juga membedah luka lama yang sempat menggantung. Ingat momen saat Riani ternyata memendam rasa bukan untuk Genta? Di sini, emosi tersebut digali lebih dalam. Ada satu keresahan yang sangat relatable: bagaimana rasanya ketika kamu tahu sahabat kamu menyukai seseorang, namun orang tersebut justru menyukai kamu? Donny berhasil menggambarkan bagaimana mereka mencari win-win solution tanpa harus mengorbankan ikatan persahabatan.

Sentuhan Quarter-Life Crisis: Sosok Zafran

Bagian yang paling menyentuh justru ada pada perkembangan karakter Zafran. Sebagai lulusan Ekonomi yang sempat mencoba berkarier di bank namun merasa "jiwanya mati", Zafran mewakili suara banyak milenial yang terjebak dalam quarter-life crisis. Ia berjuang menghadapi pertanyaan eksistensial:

"Apakah kita hidup hanya untuk menghabiskan oksigen, menjadi seonggok daging tanpa makna, atau berani mengejar apa yang kita cintai?"

Perjalanan Zafran dari pegawai bank menjadi seorang penulis adalah pengingat bahwa realita seringkali pahit dan jauh dari kata sempurna (utopia), namun realita itulah yang layak kamu perjuangkan.

***

5 cm: Aku, Kamu, Samudra, dan Bintang-Bintang adalah buku yang wajib kamu baca, terutama kalau kamu sedang merasa kehilangan arah. Penggambaran Pulau Kenawa yang begitu eksotis mungkin akan membuat kamu tergoda untuk segera memesan tiket ke Sumbawa Barat setelah menutup halaman terakhir buku ini.

Buku ini mengajarkan kita bahwa antara khayalan yang sempurna dan realita yang berantakan, kita harus berani memilih realita dan berjuang di dalamnya.

***

Fun Fact: Sebuah Nama yang Lahir dari Kenawa & Literatur

Ada cerita personal yang sangat mendalam bagiku terkait buku ini dan latarnya. Nama anakku, Arunika Starla Oceana, lahir dari inspirasi yang sangat kuat dari Pulau Kenawa dan kecintaanku pada dunia literatur.

Waktu itu, aku dan istri ingin memberi nama anak dengan unsur alam yang indah namun punya makna luas. Kami sempat terpikir nama "Bintang", tapi rasanya sudah terlalu umum. Akhirnya, kami mengambil unsur bahasa Inggris, Star. Karena aku teringat lagu Muse yang berjudul Starlight, jadilah nama Starla. Bayangan keindahan Milky Way di atas bukit Kenawa kemudian menyempurnakannya menjadi Starla Oceana (Bintang dan Samudra).

Lalu, dari mana nama Arunika? Nama depannya adalah pemberian langsung dari penulis idolaku, Tasaro GK. Suatu malam saat kami mengobrol via WhatsApp, aku bercerita kalau istriku akan segera melahirkan. Beliau mengusulkan nama Arunika. Nama itu terasa sangat ajaib karena anakku lahir tepat saat fajar akan menyingsing, beberapa menit sebelum azan Subuh—sesuai dengan arti Arunika, yaitu cahaya matahari yang baru terbit di pagi hari.

Buku ini bukan sekadar bacaan bagiku, tapi bagian dari sejarah kecil keluarga kami.

 

Komentar