pada tanggal
Cerita
Film Indonesia
Review Film
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Kita mungkin mengenal Aco sebagai sutradara di balik visual-visual puitis video musik Sal Priadi atau Hindia. Namanya sudah menjadi jaminan mutu di ranah tersebut. Namun, ketika ia beralih ke layar lebar, Aco membawa kedewasaan bertutur yang mengejutkan. Film ini bukan sekadar komedi; ia adalah sebuah perjalanan rekonsiliasi yang hu-ha—membuat kita menangis tersedu (hu) sekaligus tertawa terbahak (ha).
Cerita berpusat pada seorang komika bernama Tawa (diperankan oleh kolaborator setia Aco, Rachel Amanda). Ironisnya, materi stand-up Tawa terasa garing dan hambar, sampai akhirnya ia memutuskan untuk menguliti aib ayahnya sendiri sebagai bahan lelucon. Materi itu meledak, penonton tertawa, namun ada harga mahal yang harus dibayar: membuka luka lama.
Ayahnya, Keset (nama asli Hasan, diperankan dengan brilian oleh Tengku Rifnu Wikana), adalah pelawak televisi senior dengan gaya slapstick—tipe pelawak yang rela dipukul gabus styrofoam demi tawa penonton (mengingatkan kita pada era acara varietas sebuah TV swasta pada zaman itu). Hubungan mereka retak. Keset meninggalkan Tawa dan ibunya (Marissa Anita) di masa lalu, menciptakan kondisi yang dalam film ini disebut sebagai "Yatim Pasif"—ayahnya ada, masih hidup, tapi kehadirannya nihil.
Kekuatan utama film ini terletak pada jajaran pemainnya. Rachel Amanda dan Marissa Anita, seperti biasa, memberikan performa yang solid. Namun, sorotan utama jatuh pada Tengku Rifnu Wikana.
Kita terbiasa melihat Rifnu sebagai sosok garang atau menyeramkan, tetapi di sini, ia tampil rapuh dan jenaka sekaligus. Ada satu adegan di photo box yang akan menghancurkan pertahanan air mata Anda: Rifnu tersenyum untuk kamera, tetapi matanya menangis. Ia menggambarkan seorang ayah yang merasa bersalah namun tak tahu cara meminta maaf, hanya bisa menerima ketika dirinya dijadikan objek "roasting" oleh anaknya sendiri.
Dinamika di meja makan antara karakter Rifnu dan Marissa Anita juga menjadi masterclass akting. Tanpa banyak ledakan emosi berlebih, mereka menyajikan spektrum rasa—dari tawa ke tangis—yang mewakili judul film ini dengan sempurna.
Aco Tenri cerdas dalam menempatkan komedi. Ia tidak hanya mengandalkan dialog, tetapi juga visual comedy dan sound design. Scoring-nya unik; menggunakan suara laugh track (suara ketawa penonton bayaran) atau bunyi snare drum justru di momen-momen kecemasan (anxiety) karakter memuncak. Ini adalah satir yang menyentil: betapa hidup mereka seperti panggung komedi yang terkadang tidak lucu bagi pelakunya.
Dukungan para pemeran pendukung seperti Enzy Storia, Arif Brata, Gilang Bhaskara, hingga Bintang Emon (yang secara mengejutkan menjadi karakter paling "waras" dan normal di sini) memberikan keseimbangan yang manis. Mereka hadir bukan sekadar tempelan, melainkan sebagai penopang realitas Tawa yang absurd.
Detail artistik khas Aco juga bertebaran, mulai dari kostum Keset yang ajaib (memakai sarung bantal hingga tas kerupuk) hingga properti rumah yang nyeleneh seperti patung ayam raksasa. Semua elemen ini membangun dunia yang believable namun tetap unik.
Berbeda dengan banyak film Indonesia yang sering terjebak pada penyelesaian moralis yang "main aman", Suka Duka Tawa memberikan closure yang terasa pantas dan adil. Tidak ada penghakiman hitam-putih. Kita diajak memahami bahwa orang tua pun manusia yang punya trauma, dan anak berhak atas kemarahannya.
Lagu "Bunga Maaf" dari Lantis yang mengalun di film ini semakin mempertegas atmosfer pilu yang indah. Film ini adalah sebuah paket lengkap: naskah yang matang, akting pemenang penghargaan (terutama potensi besar Tengku Rifnu untuk FFI), dan penyutradaraan yang penuh visi.
Suka Duka Tawa dijadwalkan tayang pada 8 Januari 2026. Ini adalah tontonan wajib bagi siapa saja yang pernah merasa memiliki jarak dengan orang tua, atau bagi mereka yang percaya bahwa cara terbaik berdamai dengan luka adalah dengan menertawakannya.
Siapkan tisu, tapi jangan lupa untuk tertawa.
Komentar
Posting Komentar