Kalau kalian nyari film Lebaran yang cuma isinya maaf-maafan palsu dan baju baru, mending skip. Tapi kalau kalian pengen ditampar realita sampai sesak napas terus dipeluk di akhir cerita, film garapan Naya Anindita ini jawabannya. Sejak awal film ini sudah masuk radar, dan setelah ditonton? I highly recommend it.
Lebaran: Ajang Silaturahmi atau Ajang Pamer?
Film ini fokus ke Arga, pemuda yang lagi ada di fase "suram": pengangguran, ekonomi pas-pasan, dan masih numpang di rumah nenek. Pas Lebaran tiba, Arga harus menghadapi "monster" paling ngeri: congor saudara sendiri.
Kita semua pasti relate. Momen kumpul keluarga yang harusnya hangat malah berubah jadi ajang pamer anak siapa yang paling paten, jabatan siapa yang paling tinggi, dan saldo rekening siapa yang paling tebal. Arga adalah representasi kita yang jungkir balik bertahan hidup tapi cuma dinilai dari "udah kerja apa belum?".
Akting Ardit Erwandha: Definisi "Paten"!
Siapa sangka Ardit Erwandha bisa se-manusiawi ini? Dia berhasil ngebawain karakter Arga yang rapuh, malu, tapi tetap punya sisa-sisa harapan. Emosinya naik turun dengan natural, nggak lebay (meski aslinya Ardit emang agak lebay ya, hehe). Jado,Jangan kaget kalau nama dia muncul di nominasi Aktor Terbaik FFI tahun ini.
Ditambah lagi chemistry bareng Ario Wahab dan Lulu Tobing yang juara banget sebagai orang tua. Oh, dan jangan lupain Tante Yuli. Karakter ini berisik banget, tipe tante-tante julid yang bikin tangan gatal pengen nyanjung (atau nendang). Tapi ya itu poinnya, kalau kita emosi, berarti aktingnya nyampe!
Sentilan yang Dalem (Plus Musik yang Pas)
Naya Anindita pinter banget nge-balance antara drama yang bikin sesak sama humor yang pas. Visualnya jujur, nggak sok dramatis, tapi justru itu yang bikin terasa dekat. Plus, soundtrack-nya? Beuh, tiap liriknya masuk, rasanya kayak dapet pelukan buat kita yang selama ini dituntut kuat tapi jarang diapresiasi.
Ada Kurangnya Gak?
Namanya review jujur, pasti ada celahnya. Di babak terakhir, pacing-nya berasa agak buru-buru. Kayak sutradaranya agak kelimpungan cara nutup perjalanan Arga yang konkret, jadi ada beberapa solusi yang kerasa "ya sudahlah yang penting selesai". Dialog di beberapa bagian juga agak samar. Tapi tenang, karena temanya udah terlalu kuat dan deket sama kita, kekurangan teknis ini bakal ketutup sama emosi kalian yang udah telanjur diaduk-aduk.
"Tunggu Aku Sukses Nanti" bukan sekadar film Lebaran. Ini adalah tamparan sekaligus refleksi: Sebenernya kita mau ngebuktiin validasi ke siapa sih sampai sebegitunya?
Film ini adalah suara hati buat kalian yang lelah ditanya "Kapan kerja?", "Kapan nikah?", atau "Kapan kaya?". Arga mewakili kita semua saat dia akhirnya berani konfrontasi demi martabat keluarganya.
Rating Personal: 9/10
(Wajib tonton bareng keluarga, biar yang julid kesindir dikit!)
Komentar
Posting Komentar