Review Film: Operasi Pesta Copet (2026) – Surat Cinta Penuh Gairah untuk Dunia Musik dan Kekacauan Konser

Kalau kami nyari film Indonesia terbaru yang dibuat murni pakai passion dan cinta, Operasi Pesta Copet (yang awalnya sempat dikenal dengan judul Operasi Pestapora) adalah jawabannya. Digarap oleh Eddie Kemot yang sehari-hari dikenal sebagai drummer Seringai sekaligus sutradara video klip dan show director konser besar, film ini terasa seperti pelampiasan kreatif sang sutradara yang lagi geek-ing out lewat medium layar lebar. Sepanjang durasi, kamu bakal ngerasain betapa antusiasnya Eddie dalam meracik cerita yang membedah sisi gelap sekaligus seru dari sebuah festival musik.

Secara garis besar, film ini mengikuti kisah empat orang protagonis: Ijal (Iqbal Ramadan), Adut alias Anak Badut (Kristo Immanuel), Tia (Sulva Maharani), dan Melodi (Kawalabiba). Mereka adalah komplotan pencopet yang punya target ambisius: meraup ratusan HP dalam sehari di tengah lautan penonton festival musik Pestapora.

Sisi Edukasi, Realisme, dan Atmosfer yang Hidup

Yang bikin elemen pencopetan di film ini menarik adalah bagaimana naskahnya memperlakukan penonton awam. Alih-alih bikin bingung, film ini telaten banget menjelaskan modus operandi dan istilah-istilah di dunia copet. Mulai dari fase "ngambang" (siap beraksi), istilah teknis seperti ngalih, mutus, nada, hingga trik klasik menggunakan silet sampai trik baru yang bikin merinding: semprotan air cabe ke muka penonton sebelum dompet dan HP disikat. Ini bukan cuma seru ditonton, tapi juga berfungsi sebagai warning sign buat kita semua agar lebih waspada di tengah kerumunan konser.

Hebatnya, film ini berhasil bikin kita peduli pada keempat pencopet tadi tanpa jatuh pada lubang glorifikasi kriminalitas. Naskahnya cukup bijak untuk tidak sepenuhnya menyalahkan karakter utamanya sebagai "orang miskin yang bodoh", melainkan menyoroti akar masalah yang lebih besar: kegagalan sistem.

Atmosfer kemiskinan perkotaan ini juga dibangun dengan sangat organik. Contoh kecil yang brilian adalah tata suaranya (sound design). Saat adegan di teras rumah Ijal yang padat dan kumuh, sayup-sayup kita bisa mendengar suara anak-anak kecil berteriak main game di sekitar lingkungan. Detail audio seperti ini bikin ambien perkampungan sempitnya langsung terasa nyata dan menempel di kepala.

Jajaran Pemain dan Komedi yang Pas
Pendekatan emosional ke penonton juga didorong lewat komedi yang cerdas. Humor di film ini bukan cuma sekadar lemparan jokes buat bikin ketawa, tapi jadi alat ampuh buat membangun dinamika pertemanan mereka yang terasa natural.

Berikut jajaran cast-nya tampil memukau tanpa cela:

Iqbal Ramadan pas banget membawakan persona jamet pencopet yang karakternya abu-abu: kadang simpatik, tapi kadang nyebelin dan kelihatan bego.

Kristo Immanuel tampil cemerlang dalam hal tektokan komedi dan sama sekali tidak keteteran saat masuk ke adegan dramatis.

Sulva Maharani & Kawalabiba memberikan emosi yang nendang, terutama lewat adegan tangis yang sukses bikin penonton geli sekaligus iba di waktu bersamaan.
 
Fauzan Lubis (vokalis /-/ .T.I.P.S) sebagai "Bang Silet" adalah definisi MVP abang-abangan tongkrongan sok asik yang omongannya gede dan hobi nasehatin junior—tipe senior tongkrongan yang sebenarnya bikin pengen ditabok tapi dieksekusi dengan sangat gemilang.

Eksekusi Musik dan Klimaks yang Segar

Sebagai film yang berakar dari kultur musik, departemen teknisnya benar-benar juara. Keuntungan syuting langsung di tengah festival Pestapora bikin immersive experience konsernya sangat terasa organik, bukan editan instan yang kesannya dipaksakan ramai.
Penggunaan shaky cam yang konsisten, bahkan di dalam adegan dialog, membuat film ini terasa seperti progressive rock music video yang dinamis. Sentuhan personal sutradara juga terlihat jelas pada adegan Wall of Death, sebuah tradisi moshpit konser metal di mana penonton terbelah dua lalu saling bertubrukan, yang digarap dengan sangat kreatif.

Puncaknya ada pada pemilihan klimaks yang anti-mainstream. Alih-alih menggandeng musisi mainstream masa kini yang mudah ditebak, film ini justru memasukkan legenda Rhoma Irama ke atas panggung. Eksekusi visual saat sang maestro naik panggung dengan low angle shot dari belakang berhasil memancarkan aura karismatik layaknya figur legendaris yang menguasai arena. Kehadirannya pun bukan sekadar tempelan lucu, melainkan menyatu dengan konteks cerita.
Sebagai sebuah film heist, Operasi Pesta Copet menyajikan alur rencana pencurian yang jelas, runut, dan mudah diikuti penonton dari awal sampai akhir barang itu diuangkan. Konklusinya pun diselesaikan dengan elegan tanpa harus menempuh jalan pintas melodramatis murahan yang kerap melunturkan logika cerita drama keluarga Indonesia pada umumnya.

Operasi Pesta Copet adalah salah satu film Indonesia terbaik tahun ini yang wajib ditonton langsung di bioskop. Skor 9 dari 10 sangat layak disematkan untuk paket komplit hiburan, gaya, dan isi kepala yang matang ini.

Komentar