Surat Cinta untuk Tana Samawa: Resensi Video Musik "Tau Samawa" dan Jejak Rindu yang Abadi


Menyaksikan video musik "Tau Samawa" karya Iqbal Sanggo dan Widi (Muhammad Widi Yantoko) terasa seperti melayang ke masa lalu, sebuah perjalanan batin yang menenggelamkan kita ke dalam pelukan hangat Tana Samawa (Bumi Sumbawa). Dari detik pertama, langsung meresap perlahan ke dalam relung jiwa, merajut rindu pada tanah leluhur yang menyimpan jutaan cerita.

Sentuhan visual monokrom yang dibalut rekaman arsip sejarah berpadu elok dengan tarikan vokal penuh penghayatan. Di sinilah akar falsafah hidup bermasyarakat dititipkan lewat prinsip luhur Parenti Kalanis, tiga pilar suci yang menjadi kompas moral Tau Samawa (Orang Sumbawa) :

  • Pertama adalah To (Tahu), sebuah kesadaran batin untuk memahami diri sendiri, menyelami batas, dan menempatkan langkah dengan bijaksana di atas tanah tumpah darah. 
  • Kedua adalah Ila (Malu dan Harga Diri), penjagaan marwah yang menuntun jiwa agar senantiasa berjalan dalam kehormatan, melindungi diri dan sesama dari noda yang mencederai martabat.
  • Ketiga adalah Saling Satingi (Saling Menghormati), laku mulia yang memanusiakan orang lain, sebab menghormati sesama sejatinya adalah cara kita memuliakan diri sendiri.

Secara musikal, lagu ini bernapas melalui denyut tradisi yang hidup. Alunan tabuhan rebana Sakeco berpadu harmonis dengan gelora Tembang Kiak, seni vokal penuh semangat yang menggetarkan dada, mengingatkan kita pada kehangatan malam-malam di berugak, di bawah naungan langit Sumbawa.

Keindahan makna tersebut semakin menemukan wujudnya yang nyata tatkala Iqbal Sanggo berdampingan melantunkan melodi bersama Muhammad Widi Yantoko. Sebagai sosok berdarah Solo-Sumbawa, Widi memaknai kolaborasi ini sebagai perwujudan hidup dari bait "tau ka ada ke tau ka datang" pesan indah tentang bagaimana Tana Samawa selalu berlapang dada merangkul siapa saja, menyatukan anak negeri dan para pendatang dalam satu ikatan kekeluargaan yang tulus.

"Tau Samawa" video musik biasa, sih. Video musik ini semacam surat cinta yang ditulis dengan air mata rindu dan kebanggaan, sebuah pengingat abadi bahwa di mana pun kaki memijak, harkat, adat, dan cinta kasih pada tanah tumpah darah akan selalu menjadi rumah sejati bagi jiwa yang pulang.

Komentar