Pernah kebayang nggak kalau gabungan ipar yang ngeselin ditambah mertua toxic disatukan di bawah satu atap? Kalau Ipar Adalah Maut sukses bikin penonton emosi, film garapan sutradara Anggi Umbara yang satu ini siap bikin darah tinggi dengan premis keluarga suami yang kelakuannya mirip "hama". Film ini merupakan adaptasi dari film pendek populer di YouTube, yang kini diangkat ke layar lebar dengan skala produksi yang jauh lebih besar.
Sinopsis dan Premis Cerita
Cerita bermula ketika pasangan Damar (Omar Daniel) dan Intan (Raihanun) memutuskan untuk tinggal di rumah keluarga besar Damar setelah sang ayah meninggal dunia. Masalahnya, kondisi keuangan Damar sedang goyah karena terkena layoff (dipecat), sementara Intan justru lebih mandiri secara finansial berkat bisnis online shop bajunya yang sukses besar dan sering viral di media sosial.
Alih-alih bersyukur, ibu Damar (Meriam Bellina) serta adik-adiknya Bella (Sitha Marino) dan Danan (Jeremy Moriman) malah memperlakukan Intan semena-mena. Intan diperlakukan seperti pembantu tak berbayar: disuruh mengurus rumah tangga tanpa ucapan terima kasih, disalahkan atas hal-hal sepele, hingga dimintai tolong secara finansial (bahkan uang kuliah Danan sampai tersedot untuk modal bisnis kopinya yang berujung gagal). Ironisnya, Damar sebagai suami tidak bisa berbuat banyak dan gagal melindungi istrinya dari tekanan keluarga kandungnya sendiri.
Jajaran Pemain dan Akting
Dari segi akting, para pemain tampil cukup intens dan berhasil menguras emosi penonton:
👤Omar Daniel (Damar): Berusaha keras mengimbangi lawan mainnya meski karakternya digambarkan sebagai suami yang lemah dalam mengambil keputusan.
👤Meriam Bellina, Sitha Marino, & Jeremy Moriman: Trio keluarga suami yang aktingnya asli bikin ngeselin banget. Karakter mereka digambarkan jahat secara konsisten tanpa redeeming value, mirip cerita Cinderella versi modern yang bikin penonton gemas ingin ikut menyumpah-nyumpah di bioskop.
Sutradara dan Gaya Visual
Film ini menjadi ajang adaptasi yang menarik bagi Anggi Umbara, yang sebelumnya lebih sering sukses di genre horor, komedi, maupun action. Di sini, kita bisa melihat sisi lain dari Anggi yang meredam gaya visual cepat (fast-cut/zat-cet) khasnya demi fokus pada drama cerita. Butuh kebesaran hati bagi seorang sutradara dengan brand kuat untuk beradaptasi dengan cerita drama keluarga seperti ini, dan hal itu patut diapresiasi. Namun, ada sedikit catatan dari segi penulisan cerita. Film ini terlalu kuat menerapkan Murphy's Law di mana setiap kali ada rencana (seperti buka bisnis kopi atau tawaran kerja), pasti hal terburuklah yang akan terjadi. Alurnya jadi terasa agak beruntun dan mudah ditebak, kurang playful dalam memberikan sedikit ruang napas atau kejutan bagi penonton.
Salah satu keunggulan terbesar film ini adalah faktor keterkaitannya yang tinggi (relatability). Mulai dari urusan piring kotor yang dibiarkan menumpuk, hingga bantuan yang tidak dihargai, hal-hal kecil seperti ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Nggak heran kalau film ini punya potensi besar menjadi film yang sangat interaktif, di mana penonton bisa kompak bersorak atau menyumpahi karakter-karakter yang toxic di bioskop.
Sayangnya, untuk bagian ending, penyelesaiannya terasa terlalu rapi dan terburu-buru demi memastikan karakter utamanya lekas bahagia. Rasanya seperti dikebut agar penonton langsung merasa puas.
Kesimpulan dan Skor
Secara keseluruhan, film ini adalah tontonan drama keluarga yang sangat efektif menguras emosi dan bikin geregetan sejak awal hingga akhir.
Skor akhir: 7/10 (Layak tonton, terutama buat kamu yang suka film drama yang memancing emosi dan punya potensi interaktif tinggi dengan penonton satu studio).

Komentar
Posting Komentar